Sabtu, 21 September 2013

NIAS - AWAL KISAH PENGABDIAN

Setahun yang lalu, ya tepatnya 19 September 2012 kita melangkahkan kaki ke Tano Niha (Nias) bersama2 dan gak terasa seakan sekejap saja memori indah itu kini terulang kembali.
Ah kurasa kalau mengingatnya rasanya ingin kembali lagi kesana mengulang cerita itu semua; Main2 ke Pantai Bale, makan lontong Nias (yang katanya Eben dan Dulles super-duper enak), jalan2 ke Sorakhe (walaupun Lae Hendra dan Rani gak ikut) hahaha, main pingpong sama Tante Dika (walaupun si Eben merepet2 aja karna kalah terus), lawak2 bareng kalau sudah kumpul, makan Durian (jadi teringat Kak Ningsih and Leni sang Ratu Durian) hahaha, belanja ke Pasar Ya’ahowu (jumpa pasangan kak Ningsih “I Love Sibolga), sibuk2nya nyusun laporan PPL (hahaha) dan kenangan masing2 di daerah perjuangan. Bukan karena banyaknya hal yang dilakukan membuat semuanya menjadi indah, tapi karena banyak pembelajaran dan makna kehidupan yang diperoleh dari pengabdian yang bisa dikatakan masih se-umur jagung itu..
Mencoba menguras kembali kapasitas memoriku akan kenangan dulu, lets check it out!

KEBERANGKATAN
Hahahaha (mungkin ekspresi ini yang menggambarkan kisah awal yang gempa gempita kayak si Rani) kenapa??
Pertama aku ngekeh habis melihat tas si deo yang super besar kayak mau pindah kos, bayangkan aja kopernya muat untuk membawa si Dulles di dalam (peace) haha..
Melihat kondisi akupun masuk level siaga-1, langsung aku kerjai aja si Deo aku bilang biaya overload bagasi 20ribu/kg, kalau ditimbang2 overload si deo 600ribu, si Deo pun sigap memuntahkan isi kopernya yang penuh dengan hanger 2 lusin, tas 4 buah, sepatu show 3 pasang, dan baju konser nya di Nias (maklum katanya dia mirip Christina Aguilera) haha.. setelah kerja keras di mobil, akhirnya kopernya langsing juga.. Setelah ngetem di Pancing menjemput kawan2 kami pun go to Polonia..
Kedua, lama kali nungguin Lae Hendra datang dan dompet si Rani yang tinggal di kos nya hahahaha.. tapi kita gak mati kamus, ya kita mencoba ambil posisi juga di depan BB si Deo wkwkwkwk..
Ketiga, sesak napas karna dengar si speaker ribut manggilin2 kita “Panggilan terakhir kepada penumpang Wings Air tujuan Gunung Sitoli dengan nomor penerbangan GNS JT12” sementara kita masih check in dengan antrian paling belakang. Kalau ingat ini, kayaknya nafas itu udah satu2. Kita potong antrian, kena repet sama ibu2, malah nimbang barang lama kali karna barangnya banyak, harus mondar-mandir bayar overload bagasi dan airport tax pokoknya jantungan kalau ingat peristiwa ini. Untung lah baik security bandara dan pilotnya sama kita, jadi kita ditungguin, hahaha..
Penderitaanpun belum berakhir sampai di Bandara Binaka kita harus nunggu barang2 yang numpang di pesawat selanjutnya, dalam hati akupun menggumam pertanda apalah ini?? Tapi untung sinar kamera si Dulles buat kita lupa akan hal itu hahaha...

NIAS PART BEGINING
Di mobil kita yang sesak dengan barang-barang, sepanjang perjalanan kita sibuk bertanya-tanya dengan si Dika tentang bahasa2 Nias dan artinya, sambil  sesekali bersendagurau dan memandang ruas-ruas jalan yang kita lalui. Gak terasa akhirnya kita sampai di Rumah Dika, dan ini menjadi awal perkenalan dengan tante/ibu/mama/inong kita yang luar biasa kasih sayangnya selama kita di Nias yang banyak memberikan perubahan sikap, pemikiran, dan semangat untuk menjalani hari2 kita di Nias. Ya seperti biasa cipika-cipiki dulu sama tante sambil ngangkat2 barang dari mobil, setelah sebentar cerita2, kitapun disuguhkan Lontong Nias dan bontot kerang kak Ningsih (yang dengan bangga dipersembahkannya) hahaha, seketika kamipun ber-alih profesi menjadi juri master chef dan menanggapi lontong yang memenuhi mulut kami, akhirnya Dulles dan Eben pun memberikan tanggapannya kira2 begini “tabo hian kan lontong dison, beda songon na di medan kan? Godang muse” (maklum Dulles dan Eben pemilik saham warung lontong di Pancing, jadi orang ini sekalian wisata kuliner dan menambah ilmu kulinernya di Nias) hahaha..
Setelah itu kitapun go around Nias Utara mau ke Disdiknya, ya dijalan pun kita coba melihat2 pamflet mana tau daerah yang kita lewati, lokasi pengabdian kita, tiba2 ada arah panah Tuhemberua dan Sawo akhirnya aku, kak ning, and dika agak lega melihat daerah kami cukup dekat dengan Gunung Sitoli (Gusit), setelah itu lokasi Dulles pun muncul, disusul sekolah Lae Jakson yang terpampang di pinggir jalan dan sekolah si Leni. Akhirnya sampai di disdik setelah melewati gunung yang curam (hahaha jadi ingat kisah Rani dan petualangan aku dan Lisbet mendaki kantor Disdik) sampai disana tak disangka kita langsung disambut dengan kepala2 sekolah dan ngatur schedule penjemputan masing2..

KEHEBOHAN SETELAH SEMINGGU PENGABDIAN
Seminggu dengan sejuta cerita di Pantai Bale, ya mungkin itu yang kita dapatkan dari kisah si Rani S.Pd yang tumit sepatunya lepas pada saat penyambutan di Sekolah huhahahaha.. si Rani inilah yang paling heboh dan kayaknya gak punya beban kayak menang togel 4 nomor hahaha, kenapa? Karna banyak kali ceritanya, yang muridnya dimarah2i karna gak tau bahasa Inggris, yang dikibulin muridnya bilang sudah sarjana hahaha, hebohlah.. dan kayaknya alam raya mendukung cerita si Rani, terbukti siraman taik si pina pun turun dari ketinggian 5 meter ke pantai hahaha... Dua hari di Gusit kita sibuk diskusi program apa yang mau dilakukan, menyusun perangkat pembelajaran, dan sharing tentang sekolah masing2, ada sedikit kelegaanlah setelah diskusi, karena pada umumnya kita masih takut dan gak tau apa yang mau dilakukan di sekolah. Tapi satu hal penting yang ku dapat dari diskusi kita saat itu “jangan sibuk memikirkan hal2 besar yang akan kita lakukan, lakukan hal2 kecil dengan setia, pasti berhasil” aku mencoba menarik kesimpulan itu untuk meredam ketakutan yang juga menghantuiku, ditambah aku belum dapat posko tetap dan masih bertengger di Gusit aja..

ULASAN KISAH KITA
Bagaimana mengurutkan peristiwa kita selama di Nias aku gak tau persis, aku mencoba menuangkan apa yang ku ingat. Hari, minggu, dan bulan yang kita lalui membuat kita semakin menikmati pengabdian di daerah masing2, kayaknya kita udah jadi Guru PNS-lah yang menikmati gaji dari Pak Pargaulan ******** na baltuk i (kata Lae Hendra) setiap bulannya hahaha.. kalau ingat itu pasti si Lisbet ketawanya paling kuat.. Ingat gak waktu kita ke Tureloto si Leni yang di tinggal si Dulles, terus makan mi di Lahewa helmnya juga hampir tinggal (mungkin parno di tinggalin si Dulles dia) haha.. Kisah di Disdik juga, waktu si Rani dibonceng amang par-RBT naik ke Disdik hahahahaha, kau harus bersyukur Ran Tuhan baik samamu, kalian bisa landing dengan selamat wkwkwkwk.. Tapi disini juga kisah romantis si Lisbet yang ujung2nya galau di buat si Lase dan si Gea (kalau aku gak salah) hahaha.. si Dulles pun gak kalah heboh. Amang pandita, guru spiritual, tukang listrik, dan pembina pramuka di SMK N 1 Sitolu Ori ini pun pernah mabuk di buat tuak nias dan membanting2 barangnya di posko, paling lucunya waktu kesurupan di Sitolu Ori dia jadi pembina camp pramuka, terus dia bilang (kira2 begini) “Kalian kalau da sekolah, apalagi jurusan pertanian, harus bisalah buat ayam yang beranak eh bertelur sebulan sekali, jadi bertelur tiap hari dan telurnya besar2” hahaha dia mencoba meniru ucapan amang Pargaulan alhasil dia dijarah preman kampung sambil minum tuak, dan diancam “harus bisa bapak buat dikampung ini kaya gitu ya?” hahaha senjata makan tuan bro! Dan paling lucu waktu ngusir setan, setannya ngetawa2in si Dulles, hahaha
Si Eben pun gak kalah juga kan, guru 34 les di Tugela Oyo ini pun luar biasa, dia jadi pembina osis, agen perdamaian (waktu muridnya berantam), dan satu lagi profesi tukang bangunan juga digelutinya selama disana, wkwkwk.. si Leni pun juga gak hanya menjabat guru pendamping aja dia juga menjabat guru senam dan konsultan kecantikan dan konsultan makanan selama di Nias (padahal Cuma juara harapan nya lomba memasak di Lotu) hahaha tapi kalau makan durian dia paling kuat, sok2 mau ninggalin durian sama si Dulles padahal habisnya dimakan dia we.. Kalau si Deo, mamak tiri si Dika nya ini, kalau da megang Balanga, cangkir, piring, dohot galas pintor mabiar do si Dika, hahahah, and miss tercantiknya ini di Lahewa, Guru Favorit, mungkin karna di belinya produk Oriflame si Leni hahaha..

Molo si Lisbet, guru karate do di Lahewa Timur, bayangkan tiap pagi manjaljali andor dohot kangkung lao indahan ni pinahan, hahaha.. maridi pe di sunge na taktak aek na, jadi ingat aku cerita si Lisbet jadi agen kecantikan di LaTim waktu mandi di sungai (orang Nias heran liat produk kecantikan si Lisbet) padahal birongnya dia di LaTim daba hahahaha..  kalau Lae Hendra aku ingat lonceng sekolahnya ajanya hahahahahaha (pasti si Rani kekeh kali ni), lae si Lisbet senang kali lihat celan komprang lae katanya hahaha.. kalau lae Jekson yang ku ingat sarung bantal merahnya yang gak nampak waktu mau balik ke Medan hahahah, gak nyangka aku lae ini romantis juga hahahahahaha (so sweet banget merahnya).

Sawo bersaudarapun tetap eksis ya wei, si Dika lah liat, alih profesinya pun lebih mantap dia jadi Polisi Sawo we dengan sepatu polisinya hahaha. Kalau si Dika ini di Tuhemberua orang yang paling suntuk kali kalau da siap ngajar dari sekolah tapi karna baiknya Kak Ning, dia selalu menghibur dengan merah dan sabuk hitamnya hahaha, Dika masih ingat gak Kak baju andalan kak Ning, kak Ning yang nyuci jam dua pagi, sepatu Epis yang tumitnya lepas dibuatnya, waktu dia merintahkan tubuhnya gak akan sakit selama makan durian, dan yang paling lucu waktu dia di make over di salon Tuhemberua and pangkas rambut ala Jupe, poninya itu lo hahahahahahaha.. (ku upload lah fotonya)
Kalau si Rani, nunga ma, ibana do artis di Alaska, ke Alaskapun naik APV (dibaca Afufu versi Nias) hahahaha, main pingpongpun ketawanya-nya yang paling besar tapi gak pernah menang hahaha makanya gak salah gempa gempita namanya dibuat Tante Dika.. Apalagi waktu makan pas acara perpisahan kita we, ingat gak si rani yang batuk2on gara2 banyak kali makan dan perang rumah tangga dengan Lae Hendra hahahaha... ee bale, nifasungema ira ama ira ina talifusoda, gempa gempita, tukang make-up, dewasa, tukang ketawa, pendiam, orang yang paling sibuk, baik hati (gelarku) hahahahaha (jangan ada yang marah ya)

To the special mom; Buat tante/mama kami di Nias Tante Dika, mungkin sangat jarang kami temukan orang yang luarbiasa tulus kayak tante sekarang ini, mungkin inilah arti hidup yang tante bilang “Hidup akan berarti jika kita saling berbagi, karena semuanya titipan Tuhan”, kalau dibilang balasan apa yang pantas, gak ada yang bisa kami berikan buat tante, Doa, ya mungkin itu yang saat ini bisa kami berikan, karna kami tau Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat terutama kesehatan buat tante (amin), jujur secara pribadi aku banyak belajar dari tante, terutama dalam hal ketulusan membantu orang lain..

Gak terasa kini setahun lalu bak satu hari berlalu, kitapun beranjak ke posisi penting dalam studi kita. Ada yang sudah mengabdi di Pekanbaru lagi (Dulles), ada yang sudah menyelesaikan studi(Aku, Dika, Leni, Lisbet, Deo, Lae Hendra, n Dulles), dan ada yang masih fokus menyelesaikan studi (Eben, Lae Jekson, dan Kak Ningsih) semoga cepat menyelesaikan studinya ya kawan2, everything is best in God time, especially buat Eben juga cepat sembuh ya. Yang jelas keadaan hari ini adalah tapak tangga secuil kisah kita di Nias. Mungkin banyak hal dan kondisi yang membuat kita gak bisa bertegur sapa dan tatap muka saat ini, tapi kurasa kalau kita mengingat kenangan ini, gak ada alasan yang membuat kita lupa satu sama lain. Gak banyak yang bisa kita berikan untuk orang lain, yang jelas setiap hal yang telah kita berikan di Nias, tanpa kita sadari itu semua telah banyak mengajarkan kita arti pengorbanan dan pengabdian. Percayalah itu pasti berbuah!
semoga semuanya ini tak sampai disini, kita bisa bertemu bersama2 lagi, dengan sejuta kisah indah dan prestasi yang telah kita ukir kelak..

Miss you all :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar